The invisible me

 Ternyata memang aku tidak ada, tidak pernah ada dalam rencana masa depannya. 

Sabtu, 2 maret 2024, aku bertanya padanya apakah dia pernah berpikir betapa tidak cocoknya kami dan ingin menyerah saja. jawabannya membuatku berpikir lama. 

dia menjawab, tidak pernah.

yang dia pikirkan hanya kesehatan dan perkembangan Patir, anak kami. bagaimana dia bisa menjadi orangtua yang baik untuknya. 

seharusnya jawaban ini cukup baik untuk anak kami dengan posisinya sebagai ayah. 

Tetapi entah bagaimana setan membuatku berpikir, dimana aku dalam rencana itu. 

semua sikap, ucapan, dan perilakunya selama ini terngiang di kepalaku.

sebuah kesimpulan premature dari otakku tercipta, "ternyata aku memang tidak pernah ada dalam rencannya. baginya aku hanyalah orang yang melahirkan anaknya, selebih itu kami adalah orang asing. 

aku ingat ketika aku hamil pertama, dia mengirimku ke rumah ibu dan tidak pernah datang menjenguk. ketika aku keguguran, dia tertidur pulas di kasur sebelah rumah sakit. setelah operasi, dia menapik tanganku yang kotor bekas darah operasi. selama proses pemulihan dia tidak pernah datang menguatkan, malah hilang tanpa kabar. 

hamil kedua, dia mendampingi saat proses lahikan. setelah patir lahir, dia menunggu di luar,membiarkanku sendiri di ruang operasi. 

selama ini saat aku sakit, dia tak pernah peduli. 

ternyata ini semua karena aku bukanlah siapa siapa untuknya. aku hanya orang asing yang kebetulan dia nikahi tanpa keinginannya sendiri. 


Comments